Ini dia Wira Sudrajat, berbaju piyama coklat dengan sarung yang digulung asal-asalan, menyeruak di kerumunan. Menyusul di belakangnya; sang istri Isyah, Kades Hardi beserta istri ketiga, Uhan ketua RT, serta gegedug Pasirbambu lainnya.
“Mana penculik itu?” tanya Wira, percikan ludah menyembur dari mulutnya. “Hei, kenapa kalian diam saja? Firman, Harun, kenapa bengong begitu?”
Firman melengos. Harun menunduk.
Wira menyorotkan cahaya radio centernya ke wajah Dias. Si tua berjengit kendati hatinya bagai disiram air salju.
“Ya Allah, kalian apakan pemuda ini?” Isyah terpekik, tak kuasa menahan haru. Wira menggeser sorot an cahaya radio senter ke arah wanita yang memangku Dias. Wira kaget bukan kepalang, begitu pun istrinya.
“Leli?” Isyah memandang tak percaya. Lama tertegun, lalu berjongkok di samping wanita tadi. Tangannya ragu-ragu memegang pergelangan tangan Dias.
“Bu, jangan biarkan pemuda ini mati di sini,” sengguk wanita yang ternyata Leli itu.
Isyah merasa hatinya tersayat. Ia menengadah memandang suaminya. Yang dipandang tampak bingung, matanya berkeliling dari satu kepala ke kepala lain. “Harun, dimana Winne?” tanyanya kepada menantunya.
Harun, dan semua yang hadir di situ, malah ketularan bingung. “Kenapa Mamak mencari Winne ke sini?”
“Bukankah dia telah menculiknya?” Wira menunjuk Dias.
Semua tertegun. Ada yang berbisik-bisik, ada yang mencibir.
“Winne meninggalkan kamarnya. Ia pergi lewat jendela. Mungkin kalian melihat pemuda ini membawanya?” Hardi ikut menjelaskan.
Semua menggeleng.
“Sudah dulu, Mamak, sebaiknya kita bicarakan nanti di desa,” usul Uhan.
“Iya, kasihan Dias butuh pengobatan,” timpal Firman.
Wira malah tambah bingung. “Jadi, dimana Winne?”
Aku memandang bayangan samar gubuk di sawah. Nanti, setelah tempat ini sepi, aku akan memeriksa apakah winne ada di sana. Semoga firasatku ini benar.
Panji: "Aku menulis kisah nyata, Kang. Aku menulis apa yang kulihat, menambahnya dengan sedikit imajinasi. Atau, biar ceritanya nggak monoton, aku bikin trik supaya orang-orang yang masuk dalam novel ini ngelakuin sesuatu yang udah jadi skenarioku.”