Dimanakah Winne?

Posted April 17, 2009 by Ayahnya Ranggasetya
Categories: Dias, Firman, Hardi, Harun, Isyah, Leli, Uhan, Winne, Wira

Ini dia Wira Sudrajat, berbaju piyama coklat dengan sarung yang digulung asal-asalan, menyeruak di kerumunan. Menyusul di belakangnya; sang istri Isyah, Kades Hardi beserta istri ketiga, Uhan ketua RT, serta gegedug Pasirbambu lainnya.

“Mana penculik itu?” tanya Wira, percikan ludah menyembur dari mulutnya. “Hei, kenapa kalian diam saja? Firman, Harun, kenapa bengong begitu?”

Firman melengos. Harun menunduk.

Wira menyorotkan cahaya radio centernya ke wajah Dias. Si tua berjengit kendati hatinya bagai disiram air salju.

“Ya Allah, kalian apakan pemuda ini?” Isyah terpekik, tak kuasa menahan haru. Wira menggeser sorot an cahaya radio senter ke arah wanita yang memangku Dias. Wira kaget bukan kepalang, begitu pun istrinya.

“Leli?” Isyah memandang tak percaya. Lama tertegun, lalu berjongkok di samping wanita tadi. Tangannya ragu-ragu memegang pergelangan tangan Dias.

“Bu, jangan biarkan pemuda ini mati di sini,” sengguk wanita yang ternyata Leli itu.
Isyah merasa hatinya tersayat. Ia menengadah memandang suaminya. Yang dipandang tampak bingung, matanya berkeliling dari satu kepala ke kepala lain. “Harun, dimana Winne?” tanyanya kepada menantunya.

Harun, dan semua yang hadir di situ, malah ketularan bingung. “Kenapa Mamak mencari Winne ke sini?”

“Bukankah dia telah menculiknya?” Wira menunjuk Dias.

Semua tertegun. Ada yang berbisik-bisik, ada yang mencibir.

“Winne meninggalkan kamarnya. Ia pergi lewat jendela. Mungkin kalian melihat pemuda ini membawanya?” Hardi ikut menjelaskan.

Semua menggeleng.

“Sudah dulu, Mamak, sebaiknya kita bicarakan nanti di desa,” usul Uhan.

“Iya, kasihan Dias butuh pengobatan,” timpal Firman.

Wira malah tambah bingung. “Jadi, dimana Winne?”

Aku memandang bayangan samar gubuk di sawah. Nanti, setelah tempat ini sepi, aku akan memeriksa apakah winne ada di sana. Semoga firasatku ini benar.

Satu Lawan Belasan

Posted April 17, 2009 by Ayahnya Ranggasetya
Categories: Adnan, Anwar, Atim, Buhe, Dias, Encu, Firman, Harun, Leli, Ruslan, Sanip, Sukar, Tohir

Warga Haurkuning tahu-tahu sudah berbaris di hadapan Dias. Pemuda gondrong itu mencoba tersenyum, tapi gagal. Buang-buang waktu saja, dalam gelap senyumnya tak akan kelihatan.

“Mamang-mamang, aku warga Pasirbambu, namaku Dias, tukang kecap,” Dias buru-buru memperkenalkan diri.

Tapi warga Haurkuning tak peduli. Kepalangan tinjunya sudah bulat, yang punya kepala cepak langsung ayunkan bogem. Jeduk!

“AAAAAKH!” si cepak menjerit sambil mengipas-ngipas telapak tangannya. Ternyata Dias berhasil mengelak tinju si cepak dengan cara memiringkan tubuhnya sedikit ke kiri. Bahkan Dias sendiri kaget mendengar bunyi jeduk tadi, tak sangka kalau di belakangnya ada sebatang pohon Mahoni besar.

Yang pakai peci jadi tambah berang melihat kawannya salah sasaran. Sembari berteriak “CIAAAAAT!” kakinya menyambar cepat. Lalu gedebut! Si peci terjungkal di tempat sebelum kakinya berhasil menghantam dada Dias. Apatah pasas? Rupanya si peci lupa mengangkat terlebih dahulu kain sarung yang dikenakannya, sehingga kaki kiri yang dipakai untuk menopang tubuhnya ikut tertarik ke depan. Tak ayal, ia jatuh terlentang. Kain sarungnya sobek memanjang.

“KURANG AJAR!” orang berjaket kulit mengerang. Ia mengirim telapak tangan terbuka ke dada Dias. Dugh! Kali ini Dias harus mengakui kedahsyatan hentakan tangan orang itu. Tubuhnya terjengkang membentur pohon Mahoni. Belum sempat mengusir kunang-kunang yang mengalangi pandangannya, Dias kembali menerima pukulan, di perut, di kening, di bahu, di dagu…

“STOP! KALIAN JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI!”teguran Firman yang baru sampai menghentikan aksi orang-orang Haurkuning.

“Ini maling bikin repot warga di desaku,” Buhe berlagak polisi. “Jadi, akulah yang berhak menghakiminya!” Lalu beletuk! Buhe menerkam wajah Dias. Dibal-bal wajah sahabatnya dengan tinju.

Sekarang dalam rombongan Pasirbambu ada pula Tohir, sahabat Naryo. Tohir tak mau ketinggalan, ia menyepak kaki Dias kuat-kuat sampai si Dias jatuh berguling.

Anwar yang paling menderita dalam pengejaran ini (ia paling capek berlari karena membawa tubuhnya sendiri yang segede drum) jelas tak ingin menyia-nyiakan kesempatan membalas dendam. Ia menjambak kepala Dias. “Oho, rambutmu gondrong!” serunya, ia teringat nasib kepalanya yang gundul betapa sering dijitak teman-temannya. Ia trauma. Maka
membantingkan kepala pemuda yang disangkanya maling itu ke perutnya hingga terdengar bunyi bul-bul berulang kali.

Pemuda lain tergoda untuk mengprekpek tubuh ’si pencuri’. Mumpung sudah lama tidak ada tawuran, ada baiknya ’si pencuri’ ini dipakai buat latihan.

“Sabar, anak muda! Jangan berbuat seenaknya,” Firman berseru, namun seruannya tak digubris. Parta dan Harun mencoba menghentikan pengeroyokan dengan cara membentengi tubuh Dias, tapi keduanya malah ikut terjengkang. Atim dan Encu memilih jadi penonton. Orang-orang Haurkuning mengusap-usap kepalan tangan, berharap ada kesempatan memukul lagi.

Tiba-tiba…

“HENTIKAAAN…!”

Israel akan menghentikan serangannya ke Palestina, Pasukan koalisi (USA, Inggris, Australia) akan menggagalkan agresi militernya ke Irak, andaikata semua wanita di dunia meneriakkan kata ‘hentikan’ persis di lubang kuping presidennya. Begitu pun Buhe, Tohir dan para pemuda yang tak menggubris teguran Firman. langsung terpaku takjub oleh karena mendengar teriakan wanita bilang hentikan. Entahlah kalau teriakan itu terlontar dari mulut seorang nenek-nenek peot, barangkali akan lain lagi ceritanya. Tapi, yang barusan terdengar benar-benar suara gadis muda, meski histeris tapi masih ada nada merdunya.

Maka, terjangan pentungan kayu yang tinggal beberapa jengkal lagi menghantam tubuh Dias langsung terkulai, tangan-tangan langsung kesemutan. Mereka tak percaya, dalam keremangan malam melihat sesosok wanita menghambur, memeluk dan mendekap wajah orang yang dikeroyoknya. Semua tampak bloon menghadapi situasi macam begini. Apa yang harus dilakukan? Meneruskan pengeroyokan? Apa perempuan itu mesti dikeroyok juga?”

“KENAPA KALIAN DIAM SAJA? MANA MALINGNYA?” Sanip datang bersama Sukar, Adnan, Ruslan, orang yang bawa kunci inggris serta pemuda berwajah tirus. Pakaian mereka basah kuyup.

Sanip menyorotkan centernya ke arah ’sang maling’ yang sedang didekap wanita tadi. Tersentaklah Sanip, terloncatlah semua orang, tertegunlah warga Haurkuning. Wajah yang bengap itu, yang mulut dan hidungnya bercucur darah itu, yang matanya terpejam pingsan itu, adalah sebenar-benarnya wajah Dias.

“Ya Allah, ya Tuhanku!” semua berseru.

Menyerah

Posted April 17, 2009 by Ayahnya Ranggasetya
Categories: Dias, Winne

Membuat akhir cinta yang bahagia ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Dias dan Winne terkejut mendengar suara kentungan bertalu-talu nun jauh di belakang mereka. Garis-garis cahaya senter berkelebatan, tak ubahnya seperti sorot lampu mobil polisi pemburu. Tak salah lagi, mereka adalah orang-orang Pasirbambu yang mengejarnya.

“Lari, Winne!” seru Dias.

Dua kekasih itu kembali mengayun langkah seribu. Semakin cepat, semakin letih, semakin nyeri, semakin tipis harapan.

Sesampainya di kelokan tepi pesawahan, Dias mendadak hentikan langkah. Dari arah depan, sekitar 50 meter, tepatnya di ujung desa Haurkuning, beberapa warga terlihat sedang nongkrong di gapura. Cahaya petromak memancar terang dari arah sana.

Dias panik. Haruskah ia menghampiri orang-orang Haurkuning itu dan meminta ’suaka’ dari kejaran warga Pasirbambu? Tapi, akankah mereka mengerti tentang cinta dan kegilaannya? Dias juga menyangsikan apakah di antara mereka ada yang cukup kenal padanya. Satu-satunya jalan ia harus mengalikan arah, tapi ke arah mana? Sisi kanan jalan adalah sosok tinggi tanah lamping yang tak dapat di panjati, sedangkan sisi kirinya membentang pesawahan dengan perkebunan kopi yang gelap gulita sebagai pembatas nun jauh di sana (lokasi ini detailnya dapat dibaca di postingan berjudul Di Saung Perbatasan Desa dan Mencari Kehidupan Lain).

“Dias!” Winne menunjuk gubuk kecil di sawah tak jauh dari jalan.

Dias mendesah. “Mereka pasti akan tahu. Percuma,” katanya gugup.

Winne kecewa, ia tak menyangka Dias akan mengucapkan kalimat itu.

“Jadi kita akan menyerah saja?”

Dias meringis, hatinya sakit teriris. Lagi-lagi ia menggamit tangan Winne, bersiap-siap lari ke gubuk, tapi sebentar kemudian ia berubah pikiran. “Kau saja, pergilah!” perintahnya sambil membuka membuka ikatan tas Winne dan memasangkannya di bahu gadis itu.

“Tidak, Ias! Aku tidak akan meninggalkanmu!” pekik Winne tertahan.

“Cepat, lari sana!”

“Tidak!”

“Dasar nenek cerewet! Kubilang lari, lari!”

“Kau…”

“Jangan pedulikan aku. Percayalah, orang Pasirbambu itu akan kuhadapi. Akan kutunjukkan wajahku biar mereka tahu siapa aku,” Dias membuka kupluk-nya.

“Tapi Ias, mereka pasti akan mengeroyokmu!” air mata Winne tumpah ketika mengucapkan kalimat itu.

“Kalau kau tetap di sini, kau pasti akan dikeroyok juga,” Dias menakut-nakuti. Sejurus kemudian ia membetot tangan Winne, memaksa tubuh gadis itu menghambur ke pelukannya.

“Sudahlah jangan cerewet! Cepat, lari sembunyi!”

Winne berlari mengarungi tegalan sawah. Bunyi keciprat kakinya di tanah yang becek membuat kelopak mata Dias menghangat karena sedih dan haru. Tak terasa, air mata pun meleleh di pipi pemuda itu. Cepat-cepat ia menyekanya pakai tangan.

“Sekarang apa yang harus kulakukan?” tanyanya pada diri sendiri. Ia menoleh ke barat, kilatan cahaya senter makin mendekat, suara kentongan makin kuat. Ia berpikir lagi, apa yang harus kulakukan? Berlari? Ya, ia siap-siap akan berlari ke arah gapura tempat berkumpulnya warga Haurkuning itu. Tapi, lagi-lagi ia urungkan niatnya. Panik. Bingung.

Celakanya, orang-orang Haurkuning yang mendengar suara kentongan langsung berloncatan siaga. Semula mereka menyangka warga Pasirbambu hendak bikin keributan di desanya, tapi kemudian salah seorang dari mereka berseru: “Kayaknya ada acara mengejar garong, Ceng. Itu dia garongnya, lagi kencing di bawah pohon Mahoni!”

“Ayo kita tangkap dia!”

“SERBUUU…!”

Sekarang Dias pasrah, menunggu, orang-orang mana yang akan lebih dulu sampai ke hadapannya. Ia melepas tasnya yang berat di aspal, memandang ke saung, lalu menengadah ke langit. Di antara kelamnya langit ia melukis wajah Winne tersenyum manis kepadanya. Ia ingin merengkuh wajah gadis itu.

Bukan Belati Beneran

Posted April 16, 2009 by Ayahnya Ranggasetya
Categories: Apip, Naryo

Badai penyesalan bergolak hebat dalam dada. Jantungnya berdegup kencang, sekujur tubuhnya gemetar ketakutan. Naryo berjalan mondar-mandir gelisah di sepanjang rumahnya, sampai akhirnya ia terkulai lemas di pojok ruangan. Sesal itu, bersama-sama takut, cemas, bingung, kecewa, marah, benci menonjok-nonjok relung hati. Ia ingin lari dari kenyataan. Ia tak mau percaya atas kejadian yang barusan dialaminya.

Mimpi. Yah, ia berharap semua ini hanya mimpi. Sudah dicubit kedua pipi, sudah dipelintir tangan dan kaki, sudah dipukul kepalanya sendiri, namun pemandangan di depan matanya benar-benar nyata. Tak perlu membelalakkan mata, toh dalam keremangan lampu listrik 5 watt tubuh Apip sudah tampak jelas membujur kaku di bawah jendela, dengan darah segar yang membungkus sekujur kepalanya. “Aku membunuh pemuda itu,” getir Naryo.

Setan apa gerangan yang telah merasuki pikiranku? Setan apa yang telah menggelapkan mataku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus merongrong. Jawabannya akan sama: setan jengkel, setan benci, setan kesal.

Betapa tidak, Selama ini Naryo sudah berusaha sesabar mungkin meladeni segala tingkah polah Apip kepadanya. Ia sabar dileluconi Apip dengan lelucon yang tak lucu, yang seolah-olah menganggap dirinya tak lebih sebagai anak kecil. Padahal siapa sebenarnya yang kecil? Usia Naryo sembilan tahun lebih tua dari Apip.

Selama ini Naryo bersabar karena sebagai orang yang lebih tua, ia ingin menunjukkan bahwa ia bijaksana, dan Naryo berharap kesabarannya akan membuat si Apip berubah untuk menghormatinya. Tapi, rupanya kesabaran Naryo disalah-artikan oleh Apip, malah membuat si Apip tergoda untuk terus memperdayanya.

Kesabaran Naryo tentu ada batasnya. Kalau sudah jengkel-jengkel amat, orang sesabar apa pun pasti akan marah juga. Begitu pun Naryo, ia hilang kesabaran, ia kalap, ia gelap mata. Dengan nafsu yang memburu Naryo mencabut palu kecil di pinggangnya, palu itu kemudian dipukulkan kuat-kuat ke kepala Apip, dua pukulan masing-masing di pelipis kanan dan kiri, satu pukulan lagi tepat di ubun-ubun. Apip yang semula tertawa, sontak menjerit kesakitan. Darah muncrat dari kepalanya. Ia ambruk ke lantai, menggelepar-gelepar mirip ikan tawes kekeringan, lalu nyawanya melayang sesaat kemudian.

Masih dalam keadaan marah, ditambah panik, ditambah bingung, Naryo menyeret mayat Apip masuk ke rumahnya dan mengunci pintu. Ia berjalan mondar-mandir, dan begitulah, penyesalan selalu datang terlambat.

Sekarang Naryo terkulai lemas, memejam mata. Ia berharap Tuhan bermurah hati mengembalikan nyawa Apip ke jasadnya yang berdarah-darah itu. Konyol memang, tetapi tidak ada yang lebih konyol dari pembunuhan ini selain ketidak-sanggupannya berpikir panjang sebelum menyayun palu.

Naryo memandang palu di atas meja. Ia merinding ketakutan. Tiba-tiba ia teringat ‘belati’ milik Apip yang tercampak ke halaman. Ia berusaha bangun untuk mengambilnya, tapi kemudian urung, toh bukan belati beneran.

Naryo tahu beberapa pohon pisang di halaman rumah Apip buahnya sudah layak dipanen (baca lagi: Saat-saat Kocek Tipis). Rupanya Apip datang hendak memberikan salah satu buah pisangnya pada Naryo. Ah, Apip tertawa ngakak melihat tindakan Naryo yang gesit meloncat adugabrut karena menyangka sesuatu dihunuskan Apip ke dadanya adalah belati. Terang saja Naryo naik pitam, lalu dibunuhlah si Apip saat itu juga. Semua benar-benar di luar dugaan.

Cinta Mengalahkan Segalanya

Posted April 16, 2009 by Ayahnya Ranggasetya
Categories: Dias, Winne

Mobil pick up berbodi bongsor melaju cepat di jalur off road yang granjal-grinjul penuh lubang bebatuan. Belasan mobil polisi pemburu di belakangnya terus mengejar dengan sirine memekak. Sang sopir amat lihai menyetir, banting setir kiri-kanan, meliuk-liuk melintasi kelokan tajam. Sementara di sebelahnya duduk seorang wanita dengan wajah pucat. Wanita itu tak sanggup melihat deretan pepohonan di tepi jalan yang seperti akan menghantam wajahnya, menerjang dan membentur tubuh rapuhnya. Keselamatan benar-benar ada di tangan sang sopir. Itulah fantasi yang muncul sejenak di benak seorang Dias, di antara sakit dan lelah tubuhnya berlari melewati rerimbunan semak belukar. Betapa pun harus ia akui dirinya belum bisa nyetir mobil, tapi untuk menyingkirkan takut dan cemas, juga untuk memompa semangat, boleh-boleh saja ia berfantasi macam begitu.

Ibarat pergulatan perampok mobil di Jakarta yang berusaha lolos dari cengkraman tim Polda Metro Jaya yang memburunya, dan ketika masuk ke jalan tol lingkar luar Jakarta ia bisa sedikit bernapas lega, kendati masih was-was akan adanya pemblokiran jalan di depan. Begitu pun Dias, dadanya agak plong saat tiba di jalan desa. Tak ada perumahan di situ, kecuali satu dua gubuk kecil tempat istirahat petani. Aspal terasa basah dan dingin menggigit telapak kaki. Sandal lepas entah dimana, Dias tak peduli. Goresan luka di kaki membuat langkahnya pincang.

Dias melirik Winne. Dalam gelap ia melihat seraut wajah yang sama tegang seperti dirinya. Hati pemuda itu miris, sungguh tak menyangka akan seperti ini kejadiannya. Orang-orang itu menganggap dirinya maling. Terlintas dalam pikirnya untuk berhenti saja dan menyerah agar mereka tahu siapakah dirinya. Tapi, yah, kali ini ia tak ingin menyerah lagi. Ia ingin berjuang. Ia percaya, cinta akan mengalahkan segalanya.

Dias menelan ludah, berharap liur akan membasuh kerongkongannya yang kering. Pemuda itu menoleh ke belakang. Terjebakkah orang-orang itu di sungai Cilowa? Ia memperlambat langkah, “Win, sekarang aku benar-benar percaya cinta akan mengalahkan segalanya,” kata Dias.

Winne tak menyahut, keadaan dirinya tak mengizinkannya bicara.

“Maksudku, apa yang kau lakukan malam ini…. Yah, aku merasa kau sudah menunjukkan betapa besarnya cintamu padaku dengan pengorbanan ini. Kau rela meninggalkan rumahmu, orang tuamu, juga kehidupan ningratmu.”

Winne masih belum kuasa bicara, ia sibuk mengatur napasnya yang memburu. Kebisuan gadis itu membuat Dias ragu untuk melanjutkan ucapannya, maka pemuda itu pun memilih diam.

“Bicaralah, Ias, aku senang mendengar ucapanmu,” akhirnya Winne membuka suara.

Kadung kata-katanya sudah ditelan, Dias malah meraih jemari gadis itu, membelainya dengan lembut.

Hembusan angin tak sanggup memadamkan api asamara yang bergolak di dada. Sejoli itu melangkah cepat menyusuri jalan desa, ke timur menuju desa Haurkuning, menjauh dari alun-alun Pasirbambu yang berjarak 100 meteran dari situ, alun-alun desa yang dijejali kenangan kisah-kasih mereka di masa silam. Akankah cinta berakhir bahagia?

Nggak! Nggak boleh ada cinta yang akhirnya harus bahagia!

Agresi Militer

Posted April 16, 2009 by Ayahnya Ranggasetya
Categories: Atim, Encu, Firman, Haerul, Harun, Parta, Sanip

Belasan warga menyeruak masuk kebun. Tanaman cabe, terung, mentimun, singkong menjadi saksi kebringasan langkah mereka. Ibarat pasukan bersenjata sedang melancarkan agresi militer, mereka menggasak tanaman itu. Firman menjadi komandan, di belakangnya berturut-turut ada Parta, Haerul, Harun, Encu, Atim dan para pemuda. Kentongan terus dipukul.

Kira-kira 10 meter lagi ke tepi sungai Cilowa, aku bersama rombongan lainnya menghadang langkah mereka. Hampir saja Parta mengayun pentungan kayu ke kepalaku.

“JANGAN! AKU PANJI!” teriakku. Cahaya senter mereka muncrat ke wajahku.

“Dimana malingnya?” tanya Firman.

“Dia lari ke jalan desa, menuju Haurkuning.”

“Ualaaah, kenapa kita malah ke sini?” Parta mengayun tinju dengan kesal.

“Kalian cuma berempat, mana yang lain?” tanya Firman lagi.

“Mereka terjebak menyebrang sungai. Sekarang lagi ramai-ramai nyariin sepatu bola Mang Sanip yang hanyut.”

“Hah? Si Sanip mau main bola dimana?” Parta sewot.

“Sudah, jangan banyak bacot! Kita harus mengejar maling itu!” Firman berbalik, langkahnya setengah berlari.

Jalan desa hanya sekitar 12 meter jaraknya dari tempat itu.

Sedih Bukan Karena Cinta

Posted April 16, 2009 by Ayahnya Ranggasetya
Categories: Desi, Lena, Rani, Ubay

“Aku cuma mau bilang, mudah-mudahan dosa bunuh dirinya diampuni Tuhan,” gumam Desi setelah membaca surat kiriman Ubay.

Lena mengambil kertas itu dan dibacanya untuk kedua kali.

“Kau tega banget sih, Des,”ketus Rani sembari menyeka air matanya.

Desi terkikik. “Kenapa kau bilang aku tega? Aku kan mendoakan dia, Ran?”

“Tapi harusnya perasaanmu sama kalutnya dengan aku dong. Ubay kan mau bunuh diri. Kalau dia benar-benar melakukannya, semudah itukah ucapanmu?”

“Heh, Neng, coba pikir dulu dong! Emangnya Ubay dapat mukjizat, apa? Baca lagi kata-kata dalam suratnya, mustahil seorang Ubay bisa menulis rangkaian kata seperti itu!”

“Iya, bahasanya mengandung sastra. Kayaknya cocok dijiplak buat puisi nih,” Lena yang semula diam sekarang ikut bicara.

Rani termenung agak lama. Selama ini ia memang tak pernah mempermasalahkan bahasa yang dipakai Ubay dalam suratnya.

“Ubay cuma sekolah sampai kelas 5 SD, nggak mungkin ia yang menulis surat ini,” tambah Lena.

“Bukan masalah sekolahnya. Anak yang nggak pernah sekolah juga bisa jadi penulis asal ia mau belajar sendiri. Tapi, yah, kau tahu sendiri kan gimana Ubay? Kapan kita pernah melihat ia menulis, membaca? Hidup saja melarat, kapan mau belajar sastra?” ujar Desi.

“Hush, nggak baik ngomong kayak gitu!” Lena mencubit ringan bahu Desi.

Desi tak peduli, malah terkikik senang. “Rani, aku yakin Ubay menulis surat ini dengan bantuan temannya. Mungkin si Panji, dia kan hobi baca. Nah, artinya kau nggak perlu percaya deh. Surat itu ditulis cuma buat mancing simpatimu, supaya kau kasihan padanya, lalu kau menerima cintanya. Ah, coba pikir, kalau Ubay tahu sekarang kau sedang panik begini, ia pasti kesenangan. Itu yang dia mau sebenarnya. Faham nggak, Neng?”

“Kalian berdua yang nggak faham,” Rani membalas sambil membuang wajah.

“Loh, kenapa?”

“Sejak siang tadi, apa kalian sempat melihat Ubay?”

Desi dan Lena saling pandang, kemudian menggeleng bersamaan.

“Paling-paling siang tadi dia ngurung sendiri di rumahnya sambil mengkhayalkan kepanikanmu. Dan malam ini, mungkin dia sedang gelisah menunggu besok dimana kau akan datang meratap-ratap supaya Ubay mengurungkan niatnya bunuh diri,” ujar Desi.

“Kalian salah!” pekik Rani tiba-tiba, membuat kedua sahabatnya terperanjat kaget.

“Dia menulis surat ini malam kemarin, dikirim pagi tadi dan baru kubaca malam ini.”

“Terus, emang kenapa gitu?” Desi butuh waktu untuk mengerti.

“Ini berarti siang tadi kau membiarkan Ubay pergi ke jurang Bulakan, begitu kan, Ran?” Lena berusaha menjawab ketidak mengertiannya. Kedua matanya mulai menampakkan rasa cemas.

Rani mengangguk lemah. Air matanya meleleh. Mudah-mudahan mereka tahu air mata sedih ini bukan berarti cinta, batinnya.

Cahaya Senter Di Seberang Sungai

Posted April 15, 2009 by Ayahnya Ranggasetya
Categories: Adnan, Anwar, Ruslan, Sanip, Sukardiman

Sukardiman menghentikan langkah seribunya persis di tepi sungai Cilowa. Lelaki itu bengong, memandang ke seberang sungai.

“Ada apa, Mang Sukar?” orang yang membawa kunci inggris bertanya terengah-engah.

Sukar menunjuk titik cahaya kuning kemerahan berkedip di antara rerimbunan semak di seberang sungai. Seperti kunang-kunang, tapi Sukar yakin itu adalah cahaya senter orang yang dikejarnya. “Dia menyebrangi sungai, dan senternya tertinggal di situ, ” katanya.

“Berarti kita harus menyebrang sungai dong?” Adnan setengah bertanya.

“Ya iyalah, kita harus mengejar maling itu sampai dapat!” jawab Sanip yang baru sampai.

“Waduh, gimana Brot? Aku alergi sama air sungai,” Ruslan menyikut pinggang Anwar yang terkapar di batang pohon. Di antara pengejar lainnya, si Anwar adalah orang yang paling payah berlari, napasnya hampir habis sekarang.

Sementara yang lain masih memikirkan jalan lain menuju seberang sungai tanpa harus basah celana dalam, orang yang bawa kunci inggris bergerak menuruni tebing sungai. Ia meloncati batu-batu besar yang tersembul di permukaan air. Sampai di pertengahan sungai ternyata tidak ada batu lagi, terpaksa deh ia mencebur. Karena postur tubuhnya tinggi, air sungai tak sampai membasahi ‘burung kesayangannya’.

Sukar mau tak mau turun juga, disusul Adnan, kemudian giliran seorang pemuda berwajah tirus. Sanip tak mau ketinggalan, ia menyingsingkan celana komprangnya lalu bergerak menghampiri Ruslan.

“Sore tadi kau belum mandi kan, King?” tanya Sanip dengan senyum liar.

Ruslan tak diberi kesempatan menjawab, tangan Sanip langsung menyambar dan menariknya ke sungai. Byuuurrr! Ruslan ceking kelabakan di atas permukaan sungai, tangannya menggapai-gapai batu.

Sanip terkekeh, mengalihkan pandangannya ke arah Anwar. “Kau juga belum mandi kan, Brot?”

Anwar yang ketakutan langsung memeluk kuat-kuat batang pohon di sebelahnya.

Grusuk! Tiba-tiba tanah lembek yang dipijak Sanip longsor. Sanip kaget, sontak meloncat bagai katak. Saking kagetnya Sanip tak menyadari ke arah mana loncatannya, ke arah sungai dan byuuurrr…! Giliran Sanip kelabakan di atas air. Sumpah serapah keluar dari mulutnya, terutama karena sepatu bolanya lepas hanyut.

Aku, sejak kedatanganku ke tepi sungai, terus memperhatikan cahaya center itu, semakin lama semakin meredup kehabisan baterai. Aku tak yakin kedua orang yang membawa tas besar itu (Dias dan Winne) akan nekat menyebrangi sungai deras ini, apalagi sampai meninggalkan centernya di sana, padahal tak ada jalan lain di seberang sungai itu untuk sampai ke desa Leuwiati kecuali harus melewati perkebunan yang gelap gulita.

Aku segera memeriksa semak-semak tak jauh dari tepi sungai itu. Aku menemukan bekas pijakan kaki, menjauh dari sungai, menuju ke jalan desa. Aku juga menemukan dua pasang sandal berceceran.

“HEI, LIHAT INI SANDALNYA!” aku berseru ke arah sungai.

Beberapa orang yang belum sempat menyeberang sungai berlarian ke arahku.

“Arah mereka bukan ke Leuwiati, tapi ke jalan desa,” aku menerangkan.

“Loh, senter itu?” orang-orang keheranan.

“Si maling menjebak kita dengan melempar senternya ke sana.”

“Kurang ajar, ayo kita kejar!”

“HEI TUNGGU!” Sanip berteriak. “CARI DULU SEPATU BOLAKU, BARU KITA KEJAR MALING ITU!”

Sukar yang sudah sampai di seberang sungai membalas teriakan Sanip dengan gumam pendek: “Dasar tukang bola!”

Tawa yang Berakhir Jerit Kesakitan

Posted April 15, 2009 by Ayahnya Ranggasetya
Categories: Apip, Naryo

Naryo sedang menyantap rebus telur puyuh ketika terdengar ribut-ribut teriakan maling di belakang desa. Ia segera menyudahi makannya, bergegas ke dapur, lalu kembali ke ruang tengah sambil menyelipkan palu kecil di pinggangnya. Ia membuka pintu. Begitu pintu di buka, ia kaget bukan kepalang. Di hadapannya, Apip berdiri menghadang dengan sorot mata penuh dendam.

“Yah, kau lagi, Pip. Ada apa nih?” Naryo berusaha tenang.

Apip menjawab dengan seringai mirip kuda kesakitan.

“Saya dengar ada teriakan maling di belakang desa, jangan-jangan kau malingnya, Pip. Mau apa kemari? Minta suaka? Oh, jangan harap saya akan melepaskanmu ya!”

“Tutup mulut busukmu, Yo!” Apip membentak. “Aku datang untuk membalas tonjokkanmu di perutku!”

“Hwaaa… menuntut balas? Dengan cara apa?”

Apip memasukkan tangan kanannya ke balik baju dan menyentuh benda bulat panjang yang terselip di pinggangnya.

Naryo menyadari bahaya yang mengancamnya, ia mundur selangkah. Terdengar bunyi ‘duk’ cukup kuat ketika belakang tubuhnya menyentuh daun pintu. ‘Ah, untung tadi aku sempat menyelipkan palu,’ pikirnya. Ia masih terkekeh seperti biasa.

“Heh, kenapa tertawa?” Apip menggerung kesal.

“Hehehe… aku tertawa melihat leluconmu ini,” jawab Naryo sambil meraba-raba palunya.

“Lelucon kau bilang? LIHAT INI!” Secepat kilat Apip mencabut benda bulat panjang di pinggangnya, secepat kilat pula Apip menghambur ke arah Naryo, menusukkan kuat-kuat benda itu ke dada Naryo, tepat di dada Naryo.

“HWAAA…HAHAHA…!” Apip tertawa terbahak-bahak. Namun, tawanya berakhir dengan jeritan, jerit kesakitan yang amat sangat.

Praduga Wira Sekeluarga

Posted April 14, 2009 by Ayahnya Ranggasetya
Categories: Aldi, Buhe, Firman, Harun, Isyah, Leli, Parta, Tia, Winne, Wira

Kekompakan warga Pasirbambu dalam soal maling boleh diacungi jempol. Sekali terdengar maling, bahkan acara televisi yang paling seru tak mereka hiraukan lagi.

“Ada keasyikan tersendiri saat obor-obor dinyalakan (sayangnya, sekarang banyak yang sudah punya senter), kentongan dipukul-pukul dan saat ramai-ramai berlari mengejar si pencuri,” kata Firman, adik Wira.

“Acara mengejar maling sekarang amat langka terjadi. Aku percaya, ada sebagian orang yang diam-diam berharap terjadinya peristiwa seperti ini,” timpal Parta, tetangga sebelah Firman. Aku adalah salah satu orang yang dimaksud Parta.

Pemuda tak kalah gesit, mereka yang nongkrong di warung Leli langsung berhamburan ke arah datangnya teriakan maling. Buhe yang baru beberapa menit meringkuk di balik selimut tidurnya sontak meloncat menerjang pintu, meloncat ke jalan. setiap perempuan yang dipergokinya menjerit sambil menutup muka dengan jemari tangan yang sengaja direnggangkan. Buhe heran dan lantas melihat keadaan tubuhnya sendiri. Ia terkesiap, menepuk kepala lantas terbirit-birit kembali ke rumahnya. “Pantes aja mata mereka pada belalak, gue cuma pake slempak,” katanya.

Wira sekeluarga berbaris di teras rumah. Harun, menantu Wira, suami Tia, dilepas berbekal senter dua batere serta tali tambang di saku jaketnya. Ia pikir tali itu pasti ada gunanya, untuk mengikat tangan si maling kalau tertangkap nanti.

“Teriakan maling pertama kali terdengar sayup di belakang rumah kita. Mungkin orang memergokinya di jalan kecil menuju desa Leuwiati,” ujar Wira.

“Kasihan ya?” gumam Isyah.

“Kasian sama orang yang kecuriannya kan, Bu?” Tia menoleh.

“Iya, tapi Ibu lebih kasihan sama pencurinya.”

“Loh, kok kasihan sama maling?” Wira berkernyit.

“Iya, kasihan, dia kan sudah capek-capek mengambil barang sampai naik atap naik jendela supaya nggak ketahuan, eh, sekarang malah dikejar-kejar begitu. Nanti kalau tertangkap, orang-orang pasti akan mengeroyoknya.”

“Yang namanya maling, Bu, itu perbuatan yang melanggar hukum. Dia itu mengambil sesuatu yang sudah jadi hak milik orang lain, ya harus ditangkap dong!” cerocos Wira.

“Tapi Pak, dia maling mungkin karena butuh uang. Barang yang dicurinya mungkin akan dijualnya untuk membiayai nafkah keluarganya. Siapa tahu juga dia punya anak yang sakit dan butuh obat, lalu terpaksa berbuat maling…”

“Apa pun alasannya, yang namanya maling tetap maling, Bu!” Wira ngotot.

Tia saling pandang dengan Aldi, anaknya, lalu saling senyum-senyum. “Coba ya, Bu, barang-barang di rumah kita yang dicuri,” candanya menghentikan perseturuan pasutri tua itu.

“Nah loh, pasti Ibu akan marah-marah kan kalau ada orang mencuri barang di rumah ini?” Wira merasa berada di atas angin.

Isyah berpaling muka, malu dianya.

Aldi yang sedari tadi tertawa-tawa mencolek pinggang kakeknya.“Abah, rumahnya siapa ya yang kecurian?” tanyanya.

“Oh iya, kok nggak kedengaran ribut-ributnya ya?” Isyah tercenung.

“Orang yang pertama teriak maling pasti itulah orang yang kecurian,” jawab Wira yakin.

“Ah, bagaimana kalau dia bukan pencuri? Masak jam segini orang sudah berani mencuri?” sanggah Tia.

“Jangan-jangan barang di rumah kita yang dicuri,” Isyah memandang khawatir.

“Hahaha… mungkin dia mencuri TV yang lagi kita pelototi. Hwaaa… Sudah, sudah, ayo kita masuk!” Wira tergelak.

Mereka beranjak masuk rumah.

Setelah duduk tumaninah di kursi empuk depan TV, Wira memandang pintu kamar Winne. “Winne sudah tidur, Bu?” tanyanya kepada Isyah.

Isyah mengangkat bahu.

“Coba lihat ke kamarnya!”

Perempuan tua yang masih tampak bugar itu bergerak mencapai pintu kamar Winne. Ia terkejut, menoleh suaminya. “Pak, sejak kapan Winne suka mengunci pintu kamarnya?”